Apakah Kurikulum Merdeka Lebih Baik?
Menatap Anak-Anak di Tengah Pergulatan Pendidikan
Kasakti.com - Aku duduk di sebuah kelas, melihat anak-anak menatap papan tulis dengan mata bingung. Guru mencoba menjelaskan konsep baru, tapi ada keraguan di wajah mereka.
Bukan karena mereka bodoh, tapi karena sistem pendidikan kita terus berganti, membuat mereka seperti berlari di treadmill yang selalu berubah arah.
“Kurikulum Merdeka katanya lebih baik, ya?” tanya seorang orang tua yang duduk di bangku belakang kelas. Aku terdiam. Pertanyaan itu sederhana, tapi jawabannya jauh dari sederhana.
Kurikulum Merdeka: Janji atau Realita?
Kurikulum Merdeka diperkenalkan dengan janji besar: fleksibilitas, pembelajaran berbasis kompetensi, dan penghargaan terhadap kreativitas anak. Tapi apakah janji itu diterjemahkan menjadi realita di lapangan?
Banyak guru yang masih bingung, banyak sekolah yang belum siap, dan banyak anak yang justru menjadi korban perubahan yang tergesa-gesa. Bukannya merdeka, anak-anak kadang merasa terbebani oleh kebingungan sistem yang belum matang.
Analisis Kritis: Sistem yang Sering Berganti
Perubahan kurikulum di Indonesia bukan kali ini saja terjadi. Dari KTSP, Kurikulum 2013, hingga sekarang Kurikulum Merdeka setiap pergantian selalu menghadirkan harapan baru, tapi sering diikuti frustrasi.
Sistem pendidikan seharusnya stabil untuk membangun kompetensi dan karakter. Ketika terlalu sering berganti, guru dan murid sama-sama kehilangan arah.
1. Persiapan Guru yang Tidak Merata
Banyak guru yang belum sepenuhnya paham filosofi dan metode Kurikulum Merdeka. Pelatihan terbatas, sumber daya minim, sementara tuntutan untuk menerapkannya di kelas tetap tinggi. Ini menciptakan ketimpangan kualitas pembelajaran.
2. Infrastruktur Sekolah yang Berbeda-Beda
Sekolah di kota besar mungkin bisa mengimplementasikan Kurikulum Merdeka dengan fasilitas lengkap, tapi di daerah terpencil, kekurangan buku, modul, hingga akses internet membuat janji merdeka itu sulit tercapai.
3. Anak sebagai Subjek atau Objek?
Kurikulum Merdeka menekankan kebebasan belajar, tapi jika guru tidak siap, anak malah menjadi bingung. Alih-alih menjadi subjek yang aktif, anak kadang dipaksa menyesuaikan diri dengan sistem yang belum matang.
Narasi Manusia di Lapangan
Seorang guru di desa bercerita bahwa anak-anaknya kesulitan memahami materi karena modul yang baru tidak sesuai konteks lokal. “Mereka ingin belajar, tapi kadang saya juga bingung,” katanya dengan wajah lelah.
Di sisi lain, anak-anak kota sering dibebani ekspektasi orang tua yang menganggap Kurikulum Merdeka harus menghasilkan prestasi instan. Harapan tinggi, dukungan terbatas, dan adaptasi cepat ini yang mereka hadapi setiap hari.
Reformasi atau Eksperimen Belaka?
Kurikulum Merdeka bisa menjadi langkah reformasi pendidikan, tapi tanpa persiapan matang, ia hanya menjadi eksperimen yang membebani guru, orang tua, dan murid.
Sistem pendidikan harus memberi fondasi, bukan sekadar mengejar inovasi. Jika anak-anak dan guru kehilangan arah di tengah pergantian kurikulum, apakah perubahan itu benar-benar “lebih baik”?
Evaluasi dan Tindakan
Kurikulum Merdeka memiliki potensi untuk membawa pembelajaran lebih fleksibel dan bermakna. Tapi potensi itu hanya akan nyata jika guru dipersiapkan, sekolah dilengkapi, dan anak-anak ditempatkan sebagai subjek aktif, bukan objek eksperimen.
Jadi sebelum kita menilai Kurikulum Merdeka lebih baik atau tidak, mari lihat apa yang terjadi di lapangan, dengarkan suara guru dan anak, dan pastikan perubahan bukan sekadar slogan. Pendidikan merdeka berarti anak-anak bisa tumbuh dengan percaya diri, bukan terseret oleh kebingungan sistem.

Kasakti